Pekanbaru (DetakRiau.Com) - 
Untuk melakukan penilaian terhadap perekonomian suatu daerah tidak bisa dengan mengukur dari kondisi kekinian. 
">
 
 
Provinsi Riau Bangkit dari Keterpurukan Masa Lalu
Andi Rachman Dengan Tulus Ikhlas Membenahi dan Membangun Riau
Senin, 18 September 2017 - 15:45:15 WIB
Pekanbaru (DetakRiau.Com) - 
Untuk melakukan penilaian terhadap perekonomian suatu daerah tidak bisa dengan mengukur dari kondisi kekinian. 

Karena parameter ekonomi tidak terjadi sesaat. Akan tetapi melalui proses akibat kondisi dan dampak tahunan. 

Kepala Biro Humas Protokol dan Kerjasama Setdaprov Riau, Firdaus mengungkapkan, sumberdaya dan tenaga terkuras untuk menyelesaikan persoalan masa lalu. Di antaranya : 1). Proyek Mangkrak Jembatan Siak 4 yang memerlukan pembenahan administrasi dan kajian teknis ulang. Alhamdulillah sudah bisa dilanjutkan. 2) Pembayaran utang Main Stadion dan infrastruktur dengan segala persoalan pasca OTT pemerintahan sebelumnya. Alhamdulillah juga sudah mulai diangsur/dibayar yang ternyata cukup menguras belanja APBD, bahkan harus merasionalisasi alokasi belanja penting lainnya utk kebutuhan masyarakat. 3). Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau yabg berlarut-larut dan menjadi penghambat realisasi investasi. Dibahas dan dikoordinasi bertahun-tahun. Alhamdulillah sudah ada kemajuan tinggal pengesahan

"Kerja sekarang baru bisa terlihat 4 sampai 5 tahun mendatang. Pemerintahan yang dipimpin Arsyadjuliandi Rachman saat ini pada kenyataannya adalah Pemerintahan Recovery (cuci piring)," ujar Firdaus di Pekanbaru, Kamis (14/09/2017).

Selanjutnya 4). Permasalahan 
BUMD terutama RAL yang tidak saja bangkrut dan meimbulkan masalah bagi pemegang saham lainnya, tapi juga banyak beban hutang pajak dsb.Ini harus diurus dan perlu kehati-hatian. 5). Puluhan beban akibat pembiaran kasus masa lalu yang incrach kalah dipengadilan.Harus diurus Pemerintahan Andi Rachman, diantaranya Kasus Tanah UNRI, Tanah ex Kanwil Pariwisata dan Hutang hutang Pasca PON Pemerintahan sebelumnya. 

Itu semua beban pemerintahan saat ini. Persoalannya bagi Pemerintahan Andi Rachman bukan hanya membayar, tapi berat dan harus hati-hati menyelesaikan administrasinya, masalah teknisnya, dampak turunanannya. Itu semua dengan komitmen "Ikhlas Membenahi Dan Membangun Riau". 

Melihat dan membandingkan perekonomian Riau juga tidak sesederhana yang dijudgment Lukman Eddy. Perekonomian Riau sudah terbangun dan ditopang sektor Migas, pertanian /perkebunan dan pertambangan. 

"Kita tahu sektor-sektor tersebut sangat rentan dengan pengaruh harga pasar global. Dampaknya sangat terasa bagi Indonesia, tentunya karena Riau share terbesar di sektor-sektor itu, maka Riau yang paling terdampak kontraksi perekonomian. Hal ini juga dapat dilihat dari Analisis sektoral," terang Firdaus.

Dengan mengesampingkan sektor Migas, artinya kalau perekonomian Riau tanpa migas angka Pertimbuhannya mencapai 4,37 % YoY. 

Itu masih dipengaruhi konstraksi sektor Pertanian/perkebunan yang kita tahu kontribusinya terhadap petekonomian cukup besar. Pemerintahan Andi Rachman sudah berhasil dan terus mendorong pertumbuhan sektor jasa untuk menopang perekonomian daerah agar lebih berdaya tahan. Bahkan hasil terakhir Analisis BI diperkirakan mulai triwulan III tahun 2017 perekonomian Riau mulai membaik karena ditopang permintaan domestik yang kuat dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi dengan migas sekitar 3, 19 % YoY yang didukung peningkatan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah di akhir tahun dan peningkatan ekspor. Perlu diketahui juga bahwa Perekonomian Riau memberikan share terbesar kelima nasional (5,04%) bersama sama DKI Jakarta (17,36 %), Jawa Timur (14,60), Jawa Barat (13,13 %) dan Jawa Tengah (8,6%). Artinya Andil Ekonomi Riau terbesar pertama di Sumatera /luar Jawa. Kalau membandingkan sesuatu itu mestinya apple to apple. 

Kalau membandingkan ekonomi Riau kurang tepat dengan Sumbar, Jambi dan Provinsi yang berbeda potensi dan keunggulannya. Bandingan Riau adalah Kalimatan Timur dan ternyata kinerja ekonominya hampir sama dengan Riau. Bahkan untuk indikator-indikator tertentu Riau lebih unggul. 

Untuk diketahui bahwa Serapan APBD Riau sudah membaik. Dari 63 % tahun 2014, 68 % tahun 2015 menjadi 84, 19 % tahun 2016. Hasil itu semua dengan kerja keras, memacu program sambil membenahi masalah-masalah masa lalu. 

"Alhamdulillah perencanaan, penganggaran dan pengelolan asset yang diurus Pemerintahan Andi Rachman sudah kembali ke track (on the track). Pengelolaan asset dari kondisi amburadul, tidak terinventarisasi, tidak terurus, tidak tertib. Saat ini sudah mulai tertib," jelas Firdaus.

Yang sebelumnya belum ada nilai buku yang valid, bertahap dibenahi dari nilai perolehan Rp9 triliun tahun 2015, Rp25 triliun tahun 2016 dan hasil LHP BPK tahun 2017 tercatat dan tervalidasi Rp33 triliun. 

"Itu semua adalah kerja Recovery yang membutuhkan kesungguhan dengab niat tulus ikhlas membenahi administrasi pemerintahan agar bisa membangun Riau lebih baik untuk selanjutnya," terang Andi Rachman. (advertorial/humas Pemprov Riau)


 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -