Pers Liberal Beraroma Pers Penerangan Demi Iklan, Mengapa Bisa !
Selasa, 14 November 2017 - 19:35:13 WIB
JAKARTA(DetakRiau.com) Peran media catak besar papan atas yang mampu  bertahan karena menggunakan tiga strategi antara kue iklan dari APBN dan swasta, mengutamakan berita penerangan dan minimnya berita watch dog.

"Ini tidak bisa di hindari ditengah berita bebas di sosial media. Saya waktu di daerah  berlangganan 4 koran, sekarang setelah bertempat tinggal di Jakarta cuma berlangganan satu koran untuk membaca artikel. Sedang untuk berita lainnya cukup dengan menonton TV dan sosial media". Anwar Arifin Guru Besar Komunikasi mengatakan kepada pers di Jakarta Selasa (14/11/2017). 

Konsekuensi lainnya adalah lahirnya oligarkhi pers ditangan pemenang pasar bebas  yang dilahirkan oleh sistim  UU Pers Nomor 40 tahun 1999.

Uji kompetensi wartawan, katanya, bagus untuk meningkatkan profesionalisme. Tapi jangan lupa yang berijazah perguruan tinggi belum tentu punya ilmu sesuai dengan sertifikasinya, karena bisa saja dia lulus lewat mal praktek, ujarnya.

Pada sisi yang lain media dituntut untuk meningkatkan mutu ditengah kebebasan pers  yang tergantung pada modal atau investasi dan teknologi. Kondisi sekarang ini pernah dialami pada tahun 1955,  yang melahirkan UU Pers tahun 1966 dimana pers dituntut memiliki tanggung jawab sosial dengan ikut  sertanya negara dan UU Pers Nomor 21 tahun 1982.

Tantangan lainnya adalah indek minat baca kita rendah berada di nomor 60 dari 61 negara ditengah masarakat yang miskin. Ini semua dampak ikutan dari cuma  1 persen warga negara yang menguasai 50 persen produk domestik bruto yang dihasilkan dalam kegiatan ekonomi selama satu tahun, kata Arifin. Erwin Kurai.  


 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -