KEASRIAN kawasan Tiga Dara Hotel and Resort yang berada di Jalan Kubang Raya, Kecamatan Siak Hulu dan kawasan agrobisnis di Desa Pulau Birandang, Sungai Pinang, Kabupaten Kampar, Riau, rupanya mampu memikat h">
 
 
Kunjungi Kawasan Agrowisata dan Agrobisnis Milik Jefry Noer
Cik Zulkifli: Kita Ingin Jalin Kerjasama Transfer of Technology dan Wisata Syariah
Selasa, 21 November 2017 - 01:57:59 WIB
KEASRIAN kawasan Tiga Dara Hotel and Resort yang berada di Jalan Kubang Raya, Kecamatan Siak Hulu dan kawasan agrobisnis di Desa Pulau Birandang, Sungai Pinang, Kabupaten Kampar, Riau, rupanya mampu memikat hati pengelola Patuh Syariah Consultancy, Kuala Lumpur, Conselor Haji Zulkifi Md Saad dan rombongan.

Pria asal Negeri Selangor, Malaysia ini terpikat hatinya setelah melihat langsung panorama alam di dua kawasan ini. Tidak hanya Cik Zulkifli saja yang terpesona melihat keelokan alam yang ada di dua kawasan ini, tapi juga 20 orang  sahabat-sahabatnya yang turut mendampinginya pun juga ikut kagum. 

Lalu apa maksud dan tujuan Cik Zulkifli sampai tiga kali mengunjungi kawasan Tiga Dara Hotel and Resort yang berada di Jalan Kubang Raya, Kecamatan Siak Hulu dan kawasan agrobisnis di Desa Pulau Birandang, Sungai Pinang, Kabupaten Kampar, Riau ini? Berikut wawancara ekslusif DetakRiau.Com dan Berazam.Com dengan pengelola Patuh Syariah Consultancy, Kuala Lumpur, Conselor Haji Zulkifi Md Saad usai makan siang di Tiga Dara Hotel and Resort yang berada di Jalan Kubang Raya, Kecamatan Siak Hulu, Minggu (19/11/2017).

Apa yang membuat Cik Zulkifli tertarik setelah melihat dan mengunjungi kawasan Tiga Dara Hotel and Resort dan kawasan agrobisnis di Desa Pulau Birandang, Sungai Pinang, Kabupaten Kampar?

Asal pertama kenapa saya disini, pada kunjungan awal saya dahulu Bapak Jefry ada bermarwahkan program project yang akan dilaksanakan disini. Dimana pada waktu itu adalah menyediakan satu prasarana untuk kita katakan tempat liburan. Jadi disitu saya mulai tertarik.

Setelah pertemuan awal itu, apa tindaklanjutnya?

Dalam proses kita itu, dalam beberapa kali kunjungan yakni pada kunjungan kedua dan ketiga Pak Jefry yang saat itu masih menjabat sebagai Bupati Kampar menawarkan program Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi (RTMPE). Dan saat itu saya diberi penjelasan oleh Pak Jefry, jadi saya berpandangan bahwa biasanya orang-orang Malaysia beranggapan kalau nak buat satu project itu mesti modal yang besar. lahan yang luas dan sebagainya.

Lalu, apa yang Cik lakukan untuk meyakinkan orang-orang di Malaysia agar mau ikut dalam project tersebut?

Saya di Kuala Lumpur itu ikut terlibat dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Tengok, pakar-pakar besar yang ada itu semuanya tidak mempunyai matlamat, apa yang dilakukannya selepasan besaran. Setelah saya tengok, project yang dijalankan oleh Pak Jefry ini untuk membantu orang-orang yang kurang mampu. Dan ini suatu project yang boleh diketengahkan. Dan kita memberi penekanan bahwa ini suatu project yang cukup dan lengkap baik dari segi rohani (religi) maupun material. Dalam artian, kita tidak memerlukan dan menggunakan tenaga yang banyak dan bahkan usianya sekitar 58 dan 60. Jadi, bila saya berbincang dengan beberapa orang sahabat, mari kita datang dan kita tengok. Karena jika saya bercerita, semua orang tidak dapat visualkan apa yang ada disini. Jadi apa yang coba kita datangi, kumpulan yang kita kunjungi, kita coba ingin mendapat garansi tambahan sebenarnya. Lepas itu, kita coba memberikan suatu penerangan kepada sahabat-sahabat kita disana tentang bagaimana kita melaksanakan suatu project yang kita katakan menggunakan modal kecil dengan mempunyai lahan yang kecil tapi menghasilkan pendapatan dan membantu tenaga-tenaga yang sudah pensiun. Dimana biasanya mendapat gaji bulanan yang besar, namun setelah pensiun dia bisa mendapat separo dari itu. Sedangkan mereka masih ada tanggungan-tanggungan yang lain seperti anak masih sekolah, ada kredit perumahan, kredit kendaraan dan sebagainya. Lalu darimana mereka punya pendapatan sampingan untuk biaya semua itu. Dan inilah potensi yang kita nampak untuk kita ajak mereka dalam project tersebut.

Setelah dijelaskan, apa yang Cik Zulkifli lakukan berikutnya?

Hasil penerangan (penjelasan) yang kita bagi walau tidak terekam, disana ramai berniat. Cuma kita nak adakan satu contohnya disana. Karena contohnya tak ada disana. 

Jika begitu kondisinya, upaya apa yang Cik Zulkifli harus buat?

Saya sudah coba buat promosi kepada koperasi-koperasi yang sekarang banyak memperoleh pendapatan melalui pinjaman-pinjaman. Dan setiap orang yang meminjam dikenai bunga. Jadi berapa saja koperasi mendapat keuntungan dari situ dan faedahnya dari itu. Makanya kita coba, pada kunjungan ke kawasan Tiga Dara Hotel and Resort dan dan kawasan agrobisnis di Desa Pulau Birandang, Sungai Pinang, Kabupaten Kampar, Riau ini kita membawa 6 orang anggota koperasi.

Kenapa Cik Zulkifli melibatkan koperasi?

Mereka punya tanah, tapi tak tahu nak buat apa. Itu jalannya dan kita coba promosikan serta apa yang kita dapat maklumat positif dari pihak koperasi disana (Bandar Raya), jadi Insya Allah akan kita bawa lagi. Mungkin kumpulan yang kedua ini kita akan bawa pada Januari 2018 dan Februari 2018 mendatang. Namun kita lihat dulu dengan kondisinya.

Selain koperasi, ada tidak kawasan yang bisa menjadi tempat project ini dilaksanakan?

Setelah saya bicara dengan Pak Jefry Noer, kita di Malaysia, terutama di Selangor. Dimana Kerajaan Negeri Selangor mempromosikan, kita panggil Dusun Bandar. Yaitu kita gunakan kawasan yang tidak boleh digunakan oleh siapapun. Dimana tanah-tanahnya berada dibawah pencawangan industri. Kawasan itu tidak dibenarkan untuk membuat bangunan atau perusahaan. Kawasan itu hanya diizinkan untuk menanam sayuran. Jadi kita nak bawa juga ini kembali ke Kerajaan Negeri Selangor, kita nak tunjukkan kalau boleh dibenarkan.

Jika begitu, apa konsep yang bisa Cik Zulkifli adopsi setelah melihat langsung konsep agrowisata  yang ada di Tiga Dara dan kawasan agrobisnis di Desa Pulau Birandang, Sungai Pinang, Kabupaten Kampar, Riau ini?

Kalau project ini berhasil, kita mungkin menggunakan tenaga ahli atau membawa orang-orang Riau untuk buat transfer teknologinya ke Selangor. Sebab di Selangor kita ada punya sarana dan kawasannya. Jadi ada peluang-peluang pekerjaan untuk orang-orang yang dilatih oleh Pak Jefry Neor boleh disambung di Selangor. Dan akhirnya mendapat penghasilan. Dari penghasilannya itu, kita akan senantiasa bawa mereka ke kawasan agorwisata dan agrobisnis milik Pak Jefry Noer ini.Contohnya macam di kawasan agorwisata dan agrobisnis milik Pak Jefry Noer ini, kita akan bawa pelanggan-pelanggan untuk nginap. Disamping itu mereka juga bisa mendapatkan ilmu-ilmu pertanian. Dan setakat ini kita baru membawa kaum perempuan dan selanjutnya orang-orang koperasi. Dan kedepan mungkin akan bisa bertambah.

Setelah diajak meninjau dan mengelilingi kawasan agorwisata dan agrobisnis milik Pak Jefry Noer ini, apa ada yang menjadi daya tarik bagi peserta yang Cik Zulkifli bawa serta?

Kita datang ke kawasan milik Pak Jefry Noer ini, selain kita dapat mempelajari ilmu pertanian kita juga ingin menambah ilmu-ilmu kerohanian.

Kalau di Malaysia itu sekarang lagi digalak-galakkannya industri halal. Apa ada arah kesana nanti tempat wisata ini memakai konsep syariah?

Iya...nanti itu bisa kita bawa asal harus ada sarana utamanya terlebih dahulu. Setelah itu baru bisa kita terapkan tempat resortnya memakai konsep syariah. Nah kalau di kawasan milik Pak Jefry Noer ini itu kita dapatkan syariahnya. Syariahnya disini, jadi kita dapat bawa ke Malaysia.

Jika begitu, kerjasama apa yang akan dijalin antara Patuh Syariah Consultancy dengan Tiga Dara Hotel and Resort?

Setakat yang saya boleh sampaikan yakni saya komitmen akan membawa sebanyaknya mungkin orang-orang Malaysia datang dan berkunjung ke kawasan milik Pak Jefry Noer ini. Itu langkah pertama. Langkah kedua adalah transfer of tecnology, kita bawa orang di Riau ini ke Malaysia, terutama Selangor. 

Apa di Malaysia tidak punya transfer of technology?

Orang-orang di Malaysia belum mengenal pasti apa bentuk dan apa yang ada di Riau ini untuk dikerjakan disana. Ini yang saya nampak sekarang. Namun yang saya lihat prospek kedepan adalah di sektor pelancongan atau wisata. Kemudian dari segi kerohanian, kita sudah dibawa Pak Jefry Noer berkunjung ke pesantren. Dan saya diperkenalkan dengan ustadz-ustadz yang ada disitu. Setelah beberapa kali datang, saya melihat sekarang sudah menjadi suatu budaya. Karena itu, saya akan senantiasa akan jumpa dengan kumpulan-kumpulan dari Malaysia yang datang ke Riau pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu untuk belajar ilmu agama. Dibilangnya kemana? mau ke pesantren. Selama tiga hari dua malam mereka belajar,  hari Minggu (Ahad) mereka pulang lagi ke Malaysia. Lalu kenapa tidak kita lakukan di kawasan milik Pak Jefry Noer ini. Soalnya sudah ada kemudahan-kemudahan yang didapatkan.

Menurut Cik Zulkifli, konsep wisata syariah yang ada di kawasan milik Pak Jefry Noer apa sudah layak tidak dijual ke warga Malaysia?

Kalau menurut saya sudah bisa dan layak untuk kita jual ke Malaysia. (*)


 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -