*Ada Nama Agung Laksono dan Alfan Alfian
Buku Karya Bowo Sidik Pangarso di Jual 5.000 di Pasar Loak Jatinegara
Kamis, 11 April 2019 - 14:36:23 WIB
Jakarta (DetakRiau.com) Kembali menjadi caleg untuk  kedua kalinya
dari Dapil II Propinsi Jawa Tengah. Tidak ada tampak tanda tanda Bowo
Sidik Pangarso akan mendapat gelar koruptor.

Sebaliknya, setelah ditangkap lewat operasi  OTT oleh KPK, ketika saat menerima diduga uang komisi atas jasa pengiriman pupuk dengan menggunakan jasa kapal laut.

Yang konon akan dipergunakan untuk serangan fajar sebesar Rp 8 Milyar untuk pemilu legislatif yang akan berlangsung pada tanggal 17 April 2019 mendatang.
Dengan dibungkus dalam bentuk uang pecahan antara Rp 50.000 dan Rp 20.000, kedalam sebanyak 400.000  amplop. Yang sudah dikemas dan disimpan kedalam 82 kardus dan 2 plastik besar.

Padahal, awalnya, dalam buku yang ditulisnya dengan judul : Wakil Rakyat, "Mahkluk" Apa Dia ?. Dengan cover warna hitam dibalik siluet anggota DPR berdasi mahal. Dengan sub judul : Analisis dan Gagasan Sebagai Anggota DPR 2014-2019.

Buku hitam tersebut idenya sangat inspiratif untuk ukuran  pendatang baru di DPR RI. Disunting oleh Alfan Alfian tanggal 24 September 2014 atau sebelum dimulainya pelantikan anggota DPR yang baru terpilih lima tahun lalu.
Yang istimewa pada halaman depan juga tertulis kata sambutan dari Agung Laksono Menkokesra saat itu.

Dalam kata pengantar di  buku setebal 139 halaman.  Bowo Sidik Pangarso telah mengingatkan,  pemilu 2014 "pemilu termahal" dan "pemilu melelahkan", ujar  anak pintar  putra dari seorang dokter yang lahir di Nusa Tenggara Barat pada tahun 1968 ini.

Di akhir tulisannya kemudian, ia masih berharap. Dikatakan, dalam  konteks inilah semoga buku ini memperoleh relevansi dan menjadi pemicu bagi segenap Wakil Rakyat untuk tetap menjadi "manusia pembelajar, sederhana dalam penampilan, tetapi produktif dalam kinerja, dan peka terhadap masalah masalah rakyat dan bangsa.

Dengan demikian, diharapkan citra DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat akan semakin positif di mata rakyat, ujarnya berretorika.

Bowo menandaskan pula, sebelumnya. Katanya, seorang ksatria tidak akan "meninggalkan gelanggang", manakala tugas dan tanggung jawabnya belum selesai dikerjakan dengan sebaik baiknya. Tanggung jawab juga tercermin dari sikap mementingkan kepentingan yang besar (rakyat dan bangsa) ketimbang kepentingan jangka pendek dan bersifat pribadi atau kelompok.

Tetapi akhirnya beda era beda prilaku. Zaman dahulu  orang menulis buku cermin dari sikap politiknya. Bowo Sidik Pangarso membuat tradisi baru menulis buku untuk tenar, setelah itu di bui KPK karena kasus dugaan korupsi yang dilakukannya. Erwin Kurai.


 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -