Sri Mulyani dan Darmin Nasution Bikin Desain RAPBN Hoax 2020, Benarkah
Selasa, 28 Mei 2019 - 16:17:54 WIB
Jakarata (DetakRiau.com) Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani diduga menyampaikan RAPBN 2020 dengan asumsi Hoax dengan selalu menyalahkan faktor eksternal yakni perang dagang Amerika Serikat dengan China, serta melemahnya perdagangan dunia.

"Padahal ada yang salah dalam tata kelola keuangan kita yang tidak optimal, sehingga tidak menghasilkan leverage ekonomi dengan pertumbuhan 5 % dan nilai tukar yang terus melemah sejak 5 tahun terakhir ", ungkap Bambang Haryo Soekartono anggota DPR dari Fraksi Gerindra seusai jawaban fraksi fraksi atas rancangan APBN 2020 yang disampaikan Menteri Keuangan sebelumnya, di DPR Jakarta selasa (28/5/2019).

Seharusnya, katanya lagi, dengan produk komoditi yang jadi alasan perang dagang antara AS-RRC adalah pruduk industri yang sama atau produk substitusi.

Sebaliknya produk unggulan kita adalah dari mulai tambang, pertanian dan perkebunan yang komplementer untuk memenuhi pasar ekspor, semestinya mampu menghasikan devisa untuk memperkuat nilai tukar rupiah yang sehat, jelas Bambang.

Dan buruknya tata keuangan negara hari ini tersebut diperparah dengan banyaknya proyek termasuk infrastruktur yang idle atau mangkrak padahal dibiayai hutang dan pendapatan dari dalam negeri, katanya.

Sekarang malah pembangunan tol laut yang dibiayai oleh negara tetapi produknya dijual secara mekanisme pasar, justru semakin tidak lagi berpengaruh pada ekonomi di luar Jawa karena sebab daya beli masarakat yang masih rendah itu tadi atau telah terjadi mismanajemen, papar pebisnis asal Surabaya ini.

Solusi untuk peningkatan daya beli masarakat, saya mengusulkan agar listrik digratiskan untuk rumah tangga pengguna 1.300 watt dan air bersih gratis guna menekan biaya kesehatan agar jadi stimulus daya beli dan pertumbuhan baru.

Karena dengan menurunnya nilai tukar rupiah yang diikuti dengan daya beli yang turun sampai 55 persen. Ini lebih buruk dari Kamboja yang cuma 2 % pada tahun 2018 lalu. Jika ini dibandingkan dengan nilai tukar sebelumnya, paparnya.

Konsekuensinya, apabila masih tetap tidak ada terobosan yang baru oleh bendahara negara maka saya kawatir yang mudan adalah dengan kembali menyalahkan perang dagang AS-China serta melemahnya perdagangan dunia itu tadi sehingga pertumbuhan kita berkutat pada 5 % dan melemahnya nilai tukar rupiah dari bulan ke bulan , tegas Bambang Haryo. Erwin Kurai.


 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -