Hamdan Zulva Sebut Akar Ajaran Kebangsaan Soekarno dari Serekat Islam Cokroaminoto
Jumat, 28 Juni 2019 - 17:35:14 WIB
Jakarta (DetakRiau.com) Tokoh Islam yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zulva menyatakan, jejak akar ajaran nasionalisme atau kebangsaan atau persatuan nasional yang di rumuskan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1927.

Bukan datang dengan tiba tiba pada saat Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia, PNI, di Bandung. Yang kemudian melahirkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, PDI P pada tahun 1999 oleh anaknya Megawati Soekarnoputri

"Jauh sebelum itu, Soekarno justru lebih dahulu ber guru kepada Cokroaminoto saat Soekarno memilih indekos di rumah Cokroaminoto di Surabaya", ungkap Hamdan Zulva saat digelar diskusi: Peradaban Bangsa yang digelar oleh alumni GMNI di Jakarta (21/6/2019) lalu.

Adalah orang tua Soekarno, Soekemi, katanya, yang mempercayakan dan memutuskan agar supaya anak kandungnya, Soekarno. Agar indekos di kediaman Ketua Serekat Islam Cokroaminoto di Jalan Penele, Kota Surabaya, Propinsi Jawa Timur.

Soekemi ayah Soekarno menitipkan anaknya, Soekarno kepada Cokroaminto saat pergerakan Islam di Solo menuntut keadilan secara ekonomi dibanding kemudahan yang dinikmati oleh investor asing, ungkapnya.

Yang kemudian melahirkan pergerakan itu berubah menjadi pergerakan politik, yang membikin penjajah Belanda kemudian menjadi represif, setelah melihat gerakan Serekat Islam dan PNI malah jadi semakin membesar.

Anak anak muda yang menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan, yang indekos di rumah Cokroaminoto adalah yakni Semaun, Marijan Kartosoewirjo dan Soekarno, ujar Zulva.

"Hanya saja Cokro lebih banyak menunjuk Soekarno, apabila Cokro sedang berhalangan hadir pada saat menerima tamu tamunya dari Serekat Islam di Jalan Penele, dalam rangka kepentingan konsolidasi Serekat Islam" , beber Zulva lagi.

Jalan Penele terletak didekat Sungai Kalimas tidak jauh dari kawasan Pelabuhan Tanjung Perak yang juga berdekatan letaknya dengan kantor perusahaan besar besar milik Belanda di sekitar Jembatan Merah sekarang, yang terkenal hingga kini sebagai pusat ekonomi kota Surabaya.

Untuk diketahui pelabuhan kapal laut Tajung Perak saat itu adalah pelabuhan ekspor termodern yang terintegrasi dengan angkutan darat dan transportasi kereta api serta sudah menggunakan sistim mesin dalam bongkar muat barang.

Tidak cuma itu saja, Soekarno muda sangat juga mengidolakan Cokroaminoto. Apalagi di tanah Jawa Cokroaminoto ketika itu dikenal sebagai singa podium atau media barat sering menyebutnya sebagai raja tanpa mahkota, ujar Zulva.

"Malah, bahkan, pada waktu waktu tertentu, Soekarno yang masih berusia remaja acap sering tampak berlatih sendirian dihadapan cermin pada suatu malam, untuk agar bisa menirukan orasi ala gaya Cokroaminoto", papar Zulva.

Sampai Soekarno mendapat perhatian kusus dimata Cokroaminto, kata Zulva lagi. Dan bukti ini bisa dilihat pada saat Cokroaminoto menjodohkan anak kandungnya Oetari anak baru gede, ABG. Yang kemudian menikah dengan Soekarno setelah lulus SMA di Surabaya atau sebelum diterima kuliah di Institut Tekonologi Bandung, ITB, Propinsi Jawa Barat.

Tragedi politik akhirnya muncul, malang tak juga dapat dihindarkan, yang terjadi dengan secara mendadak dan memilukan. Ketika hasil pengkaderan oleh guru kepada muridnya yang heroik itu. Kemudian diganjar oleh pemerintah Belanda, harus di bui di era dan ditempat yang berbeda di penjara kota Surabaya dan Kota Bandung.

Kebajikannya adalah saat Soekarno menjadi Presiden setelah kemerdekaan. Soekarno tidak melupakan jasa guru, teman dan sahabatnya. Cokroaminoto dihadiahi rumah di jalan Raya Darmo Surabaya yang kemudian dihuni atau ditempati oleh Oetari.
Samanhudi pendiri Serekat Dagang Islam tahun 1911 atau cikal bakal Serekat Islam di beri rumah di Kampung Laweyan, Solo. Sedang, Semaun mendapat hadiah rumah di Jalan Cikini Raya 10 Jakarta Pusat. Yang sampai sakarang masih berdiri kokoh tetapi belum ditetapkan sebagai rumah cagar budaya pergerakan.

Setelah cukup lama menjadi murid Cokroaminoto. Soekarno melanjutkan berguru dan berdialog dengan Ahmad Dahlan pendiri ormas Islam yang modern Muhammadiyah yang menolak menyan dan mistis didalam praktek praktek peribadatan Islam.

Soekarno kemudian membuka dialog agama Islam modern lewat cara surat menyurat dengan tokoh Islam Persis di Bandung A. Hasan yang keturunan Pakistan dan M Natsir aktifis Islam asal Alahan Panjang, Minangkabau, pada saat Soekarno diasingkan oleh Belanda ke Pulau Ende, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk dijadikannya sebagai mitra dialog Islam yang kritis yang pada saat itu termasuk kejadian sangat langka pada zamannya.

Puncaknya adalah saat menyampaikan gagasan Pancasila, kata Ahmad Basarah, pada tanggal 1 Juni 1945. Soekarno yang merumuskan sila Ketuhanan pada sila ke 5 sebagai leid star bintang pembimbing yang mencerahkan.

Yang rumusan finalnya, akhirnya kemudian pada tanggal 22 Juni 1945 disebut dan dikenal dengan Piagam Jakarta yang diputuskan oleh Soekarno pada saat menjadi Ketua Panitia Sembilan lengkap dengan 7 katanya, papar wakil Ketua MPR RI.

Apabila jika kemudian terjadi perubahan atas Piagam Jakarta pada tanggal 18 Agustus 1945, imbuh Basarah. Hal tersebut dilakukan oleh tokoh pendiri bangsa dan pendiri negara yang menginginkan persatuan kebangsaan antara tokoh Islam dan tokoh Nasrani. Dimana Soekarno sendiri bukan sebagai inisiator dan tak dilibatkan sama sekali dalam hal ini kecuali pada saat putusannya saja pada tanggal 18 Agustus 1945, paparnya lagi.

"Justru semangat ini sudah diingatkan oleh Soekarno mulai sejak dini. Yang disampaikan oleh Soekarno pada saat menyampaikan pidato tentang Pancasila 1 Juni 1945. Agar supaya aspirasi yang belum tertampung didalam perumusan undang undang dasar, agar disampaikan lewat perlemen setelah merdeka", kata Basarah.

"Saya heran saja kalau masih ada yang mengatakan sekuler, ada komunis, dan malah 9 persen dari masarakat kita masih percaya Jokowi Komunis pada hal ketika meletus G30S/PKI. Usia Jokowi masih empat tahun. Mana ada PKI yang berusia balita", tandasnya.

Bukti lainnya adalah pada saat Presiden Soekarno akan memenuhi undangan Presiden Soviet Kruschev pada tahun 1961. Soekarno mengajukan sarat kepada Presiden Soviet agar supaya diketemukan lebih dahulu makam Mujahid Islam Imam Bukhari di Uzbekistan. Sebelum dirinya harus memutuskan akan berkunjung ke Soviet.

"Itu semua adalah untuk memuliakan Islam", kata Basarah.
Dan sampai hingga sekarang Nahdlatul Ulama, NU, belum pernah mecabut gelar Soekarno sebagai pemimpinan Islam Waliyyul Amri Dharuri Bisy Syaukah.

Zulva tidak menampik jika Soekarno adalah sebagai tokoh Islam yang jauh dari kemenyan dan mistis, agar supaya Islam bisa mengejar ketertingalanya dalam dunia modern dan ilmu pengetahuan yang bersandar pada rasionalitas.

"Setelah saya teliti pada saat Soekarno menerbitkan Dekrit 5 Juli 1959. Didalam pertimbangan hukumnya, Soekarno malah menegaskan bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 ", ungkap Zulva.

Mantan KSAD Jenderal Budiman ditempat yang sama memuji alumni GMNI yang berada di mana mana tidak hanya di PDI Perjuangan. "Sebaiknya juga berada di partai lainnya dan ormas Islam, agar supaya kehadiran alumni GMNI bisa menjadi perekat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan NKRI.

"Untuk hal tentang urusan NKRI ini, buat anggota TNI sudah ditanamkan dari sejak mulai masuk menjadi anggota prajurit TNI", pungkas Budiman mantan komandan pasukan penjaga perdamaian di Bosnia. Erwin Kurai.


 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -