Kongres PDI P di Bali Jadi Sorotan Jika Muncul Dinasti
Kamis, 08 Agustus 2019 - 18:16:48 WIB
JAKARTA (DetakRiau.com) Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh Megawati dan Prabowo dengan hadirnya Prabowo di Kongres PDI P di Bali siang tadi.

Kongres PDI Perjuangan dibuka secara resmi di Sanur Bali oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati, berlangsung dari tanggal 8 sampai 12 Agustus 2019 mendatang.

Salah satu agenda yang akan diputuskan adalah terkait dengan dibentuknya posisi wakil Ketua Umum DPP PDI P.
Yang disebu sebut calonnya adalah akan diisi oleh Puan Maharani dan Prananda Prabowo. Yang kaduanya adalah putra putri dari Megawati Katua Umum PDI P.

"Saya mengkawatirkan ini akan jadi blunder buat ajaran Soekarno yang diusung PDI P karena seolah olah yang tau ajaran Soekarno adalah anak Megawati, anak biologis Megawati", kata guru besar peneliti ilmu politik Poltak Partogi kepada pers di Jakarta kamis (8/8/2019).

Apalagi ini, ujarnya, yakni Soekarno adalah tokoh solidarity maker dan merakyat. Begitu selesai setelah dilantik menjadi Presiden tetap makan sate di kaki lima di depan Gedung Pola sekarang.

"Soekarno mau begini karena Soekarno sadar tidak mau jadi Raja setelah Indonesia Merdeka", tandas Poltak Partogi.

Dikatakan,PDI P harus banyak belajar, bahwa PDI P bisa menang pemilu dua kali berturut turut tahun 2014 dan 2019 adalah karena dengan hadirnya kader idiologis Jokowi. Selain Jokowi juga lebih menjiwai semangat ajaran Soekarno. Mungkin pula karena sama sama insinyur nya juga, paparnya.

Terkait kembali hadirnya Prabowo dalam Kongres PDI P lewat undangan secara kusus yang disampaikan Megawati.

"Apa Mega lupa bahwa tentara dokrinnya adalah kill or to be kill. Yang pernah dialami ayahnya Soekarno di akhir masa kekuasaannya saat menghadapi Jenderal Suharto dan Jenderal AH Nasution". paparnya.

"Apabila ini benar Mega berarti telah menciptakan oligarkhi pertama di PDI P jikalau jadi, dengan menempatkan dinasti keluarga kedalam pengurusan hasil Kongres Bali, yang malah akan bisa memberatkan PDI P kedepannya", kata Poltak.

Dari pelajaran hengkangnya Dimyati Hartono, Arifin Panigoro dan Sophan Sophian jelang pemilu 2004. Yang hasilnya diikuti dengan turunnya suara PDI P pada pemilu 2004.

"Sebaiknya ini harus dijadikan cermin dan kajian oleh Megawati", kata Poltak alumni UI Jakarta ini. Erwin Kurai


 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -