Tafsir Atas Pancasila Adalah Bukan Dogma dan Bukan Liberal
Jumat, 27 September 2019 - 20:20:45 WIB
JAKARTA (DetakRiau.com) Ahmad Basarah wakil Ketua MPR mengatakan negara harus sudah mulai membuat tafsir atas Pancasila agar tidak melahirkan liberalisme atau dogma yang kaku.

"Sebab Pancasila bukanlah idiologi terbuka dan bukan idiologi tertutup tetapi sebuah idiologi yang dinamis yang harus jadi working idiology yang hidup sesuai dengan zamannya".

Pendapat ini diutarakan Ahmad Basar saat peluncuran Buku Pancasila Dasar Filsafat Bangsa Indonesia karya Yoseph Umarhadi anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan di Jakarta Jumat (27/9/2019).

Dahulu, kata Basarah, kita sudah pernah punya tafsir atas Pancasila pada era P4. Namun sejak era reformasi negara belum pernah lagi membuat tafsir atas Pancasila, sehingga Pancasila mudah ditafsirkan oleh siapa saja.

"Sekarang tafsir atas Pancasila yang berdasarkan 5 sila sudah sangat mendesak dibuat kembali oleh negara, sesuai dengan semangat zamannya agar tidak melahirkan tafsir sesuka sukanya", ujar Basarah.

Yosep Umarhadi mengatakan Filsafat Pancasila asalnya dari pandangan Mono Dualis dan Homo Socius yang religius dan bersifat gotong royong.

"Pancasila adalah filsafat karya Bung Karno. Cuma hanya Bung Karno belum sempat menuntaskannya karena keburu muncul Revolusi", katanya.

Perbedaan filsafat Pancasila dengan filsafat barat. Bahwa filsafat Pancasila digali dari bumi Indonesia bukan diambil dari filsafat barat yang individualis, ujar Yoseph.

Sebaliknya jika menjiplak idiologi negara lain maka kita akan terasing di negeri sendiri, papar Basarah. Erwin Kurai.


 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -