PEKANBARU (DRC) - Penyidikan dugaan korupsi anggaran rutin dan kegiatan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Siak, terus berlanjut. Kini, jaksa tengah menunggu hasil perhitungan potensi kerug"> PEKANBARU (DRC) - Penyidikan dugaan korupsi anggaran rutin dan kegiatan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Ka" />
 
 
Yan Prana Tersangka Korupsi Anggaran Rutin, Jaksa Tunggu Hasil Perhitungan Kerugian Negara
Selasa, 12 Januari 2021 - 22:22:02 WIB
PEKANBARU (DRC) - Penyidikan dugaan korupsi anggaran rutin dan kegiatan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Siak, terus berlanjut. Kini, jaksa tengah menunggu hasil perhitungan potensi kerugian negara yang dilakukan oleh tim auditor. Hasil ini, nantinya bakal dituangkan dalam berita acara pemeriksan (BAP) tersangka Yan Prana Jaya. 

Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau nonaktif itu, merupakan tersangka pertama pada perkara rasuah tersebut. Saat itu, ia sebagai Kepala Bappeda Siak, merangkap Pengguna Anggaran (PA) dalam kegiatan 2014-2017 lalu. 

Yan Prana disinyalir melakukan pemotongan dan pemungutan sebesar 10 persen dari setiap pencairan kegiatan pada anggaran rutin di Bappeda. Tak tanggung-tanggung, dalam kurun waktu total nilai pemotongan yang terkumpul sekitar Rp1,3 miliar. 

Sementara perkiraan penyidik, perbuatan pejabat esselon I di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau mengakibatkan kerugian keuangan negara sekitar Rp1,8 miliar. Untuk pastinya, penyidik kemudian menggandeng tim auditor eksternal untuk melakukan penghitungan.

"Saat ini kami menunggu hasil penghitungan kerugian negara yang dilakukan tim auditor," ungkap Kasi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Riau, Muspidauan, Selasa (12/1). 

Sembari menunggu hasil itu, kata Muspidauan, pihaknya berupaya merampungkan penyidikan perkara yang menjerat Yan Prana. Hal ini, agar secepatnya dapat dilimpahkan berkas perkara ke Jaksa Peneliti atau tahap I. "Penyidik terus menggesa pemeriksaan saksi, ahli, dan penyitaan surat untuk melengkapi berkas perkara," kata mantan Kasi Datun Kejari Pekanbaru.

"Sehingga dalam waktu dekat, berkas perkara bisa dilimpahkan ke Jaksa Peneliti untuk dilakukan penelahaan syarat formil dan materilnya," tambah Muspidauan menerangkan.

Yan Prana diketahui dijebloskan ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas I Pekanbaru selama 20 hari ke depan sejak, Selasa (22/12) lalu. Bahkan penyidik telah memperpanjang masa penahanan tersangka selama 40 hari, terhitung mulai 11 Januari-19 Februari mendatang. 

Hal ini berdasarkan, Surat Perpanjangan Penahanan Nomor B01/L.4.5/Ft.1/01/2021 tertanggal 4 Januari 2021, yang ditandatangi oleh Kepala Kejati Riau, Mia Amiati. Perpanjangan tersebut, lantaran penyidikan belum selesai. Penahanan Yan Prana ini dilakukan untuk mempermudah proses penyidikan perkara rasuah tersebut. Karena, Yan Prana disinyalir berupaya menghilangkan barang bukti, dan laporan dari penyidik yang bersangkutann dicurigai melakukan penggalangan terhadap saksi-saksi lainnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal berlapis. Yakni dengan Pasal 2 ayat 1, Jo Pasal 3 Jo Pasal 10, Jo pasal 12 e dan f Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. Ancamannya, minimal 1 tahun penjara dan paling lama 20 tahun penjara. 

Sebelumnya, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau telah  melakukan pemeriksaan terhadap Yan Prana Jaya Indra Rasyid, Selasa (7/7). Sekdaprov itu dimintai keterangan dalam kapasitas sebagai mantan Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Siak selama hampir tiga jam. 

Pemeriksaan ini, merupakan yang kedua dilakukan jaksa penyelidik Pidsus untuk yang bersangkutan. Yang mana, sebelumnya Yan Prana turut diklarifikasi sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Siak selama delapan jam, Senin (6/7). Hal itu, terkait perkara dugaan korupsi yang tengah diusut Korps Adhyaksa. (rid)


 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -