Refleksi Pendidikan Islam Era 0.0
Sabtu, 06 November 2021 - 13:42:31 WIB
 
Moh. Hamilunni’am
TERKAIT:
Refleksi Pendidikan Islam Era 0.0 
Oleh : Moh. Hamilunni’am

Berbicara tentang pendidikan modern dan maju saat ini, tentu yang ada dalam benak kita adalah pendidikan di Negara Barat. Benar sekali apabila kita lihat daftar peringkat top sepuluh besar perguruan tinggi terbaik di dunia saat ini sebut saja Harvard University di Amerika, Massachusetts Institute of Technology di Amerika, University of Cambridge di Inggris, University of Oxford di Inggris, University of Pennsylvania di Amerika, Stanford University di Amerika, Columbia University di Amerika, University of California di Amerika, dan University of Chicago di Amerika. 

Bahkan, hampir tidak ditemukan nama perguruan tinggi Islam dalam deretan nama lembaga pendidikan yang masuk daftar perguruan tinggi top sepuluh dunia sekarang ini. Di sisi lain, banyak temuan-temuan ilmiah orang Eropa yang saat ini diakui dan banyak mendapat penghargaan nobel. Namun, tahukah pembaca sekalian, ternyata pendidikan Islam lah yang menjadi inspirasi Negara barat untuk maju seperti sekarang ini. Pendidikan Islam dipandang sebagai salah satu pendidikan dunia yang telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kemanfaatan dan kehidupan umat manusia.

Islam telah memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan sejak awal mula kemunculan risalah Islam. Dakwah Islam yang pertama kali diturunkan kepada Muhammad diawali dengan seruan untuk membaca. Bangsa Arab memelajari apa saja yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan yaitu memelajari ilmu pengetahuan Bangsa Yunani dan Romawi. Mereka mengkaji buku-buku dan menerjemahkan buku matematika, astronomi, dan filsafat Yunani. Selanjutnya setelah mengkaji dan menerjemahkan buku-buku ini, para ilmuwan Islam waktu itu mengukuhkannya dan meluruskan informasi dan teori yang sudah mengakar sebelumnya. Diantara teori yang diluruskan adalah teori geografi dan astronomi yeng berkaitan dengan bumi dan planet yang mengitarinya. Selanjutnya, temuan ilmiah ilmuwan Islam yang terkenal adalah ilmu matematika Aljabar yang ditemukan oleh Al-Khawarizmi. 

Buku-buku ilmuwan Muslim dalam bidang medis atau kedokteran masih sangat relevan dan penting hingga saat ini misalnya buku yang ditulis oleh Ibnu Sina yang berjudul Al Qanun fi Ath-Thib.  Buku ini masih menjadi rujukan di perguruan tinggi di Eropa hingga saat ini karena di dalamnya terdapat materi tentang tindakan operasi, diagnosis penyakit, serta diagnosis cara pengobatan dengan benar. 

Berkaitan dengan lembaga pendidikan, lembaga pendidikan Islam menjadi tempat yang paling menyenangkan bagi anak-anak. Dahulu anak-anak kecil pergi ke seorang guru yang mengajari, mendidik, dan mengarahkan mereka. Para guru duduk di pojok-pojok masjid atau di Kuttab (Taman Pendidikan Quran) yang berada dalam masjid guna mengajari anak-anak Al Quran, Sunnah, Fikih, sastra, dan bahasa. Hari belajar dimulai dengan mengkaji Al Quran dari pagi hingga waktu dhuha, kemudian pindah belajar menulis dari waktu dhuha hingga waktu dhuhur. Setelah itu baru mulai waktu istirahat. Setelah shalat dhuhur anak-anak kembali blajar lagi. Pelajaran selanjutnya adalah mengkaji ilmu-ilmu lainnya seperti nahwu, syair, bahasa, dan matematika. Ini berlangsung sampai sore. Selanjutnya, Kuttab tersebut berdiri sendiri tidak menginduk di dalam Masjid. 
Dahulu Kuttab tersebut berisi banyak anak-anak untuk bereksplorasi dan mempraktekkan langsung ilmu mereka. Para pengajar atau guru di lembaga ini dikenal dengan nama Muaddib (pendidik) karena tugas seorang guru pada lembaga ini adalah mengajari anak-anak etika dan akhlak.     
Tidak ada ketentuan umur bagi anak-anak yang ingin masuk Kuttab dan menimba ilmu. Semua keputusan diserahkan kepada orangtuanya. Kebanyakan orang tua memasukkan ke Kuttab saat usia lima sampai tujuh tahun. Kebersamaan anak-anak dengan gurunya di Kuttab tidak ada batasnya. Namun apabila seorang siswa mengabaikan gurunya saat proses belajar mengajar, maka guru berhak menghukumnya. Caranya dengan diberi nasihat dan arahan, lalu diasingkan dan ancaman. Apabila cara tersebut tidak berhasil, maka guru boleh memukulnya, namun tidak sampai melukainya. Dengan demikian, Kuttab berperan sebagai lembaga pendidikan pertama yang menyiapkan anak-anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dimana mereka yang telah selesai belajar di Kuttab melanjutkan ke jenjang pendidikan halaqah-halaqah ilmu. 

Biasanya halaqah-halaqah ilmu ini banyak diadakan di masjid-masjid. Halaqah-halaqah ini dibimbing olh para guru yang masing-masing memiliki kepakaran konsentrasi bidang ilmunya masing-masing. Metode belajarnya yaitu, guru duduk di pojok salah satu ting masjid, kemudian dikerumuni oleh para siswa secara melingkar, selanjutnya guru menyampaikan materinya sesuai dengan bidang kepakaran ilmunya. Diantara tempat terkenal yang penuh dengan halaqah taklim di era Islam adalah Jami’ Al Mansur di Baghdad, Irak, Jami’ Al-Umawi di Damaskus, Jami’ Al-Azhar di Kairo, Mesir, Masjidil Haram di Makkah, Masjid An Nabawi di Madinah, Masjid Al-Jami’ di Kordoba. Jami’ Al-Azhar di Kairo adalah lembaga pendidikan paling terkenal pada waktu itu. Banyak para ilmuwan dari segala penuntut ilmu belajar disana. 

Disisi lain, dunia pendidikan telah memasuki era 5.0 yaitu yang diprediksi era industri baru telah ada di depan mata, yaitu saat teknologi kecerdasan buatan telah menjadi manusia, mampu menirukan kecerdasan manusia. Perubahan begitu sangat cepat. Setiap hari selalu ada inovasi di sektor teknologi informasi. Dengan adanya pandemi Covid-19 ini memengaruhi tatanan kehidupan masyarakat untuk berubah dan beradaptasi. Aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan secara tatap muka (face to face) beralih ke dunia maya atau biasa disebut dengan virtual. Termasuk metode pendidikan semenjak adanya pandemi Covid-19 beralih ke metode pembelajaran online.  Aktivitas pembelajaran yang biasanya dilakukan tatap muka sekarang  cukup menggunakan media virtual seperti zoom meeting yang bisa dilakukan dimanasaja. Tuntutan perubahan sedemikian nyata. Lembaga pendidikan yang masih sibuk dengan urusan harian dan tidak berorientasi masa depan akan kehilangan kesempatan dan kian jauh ketinggalan. 

Lembaga pendidikan di era baru ini perlu memiliki mindset, skillset, dan toolset baru agar supaya mampu terus bertahan, bertumbuh, dan berkembang. Satu-satunya cara yang bisa mengubah hal tersebut adalah melalui metode pembelajaran melalui dunia pendidikan. 

Diketahui bahwa manusia telah belajar secara kolektif dan terdistribusi melalui tulisan yang ditemukan pada 3.500 SM seperti di Mesir dengan hieroglifnya, kemudian di Yunani dengan Alfabet latin, di Timur Tengah dengan berbagai abjad semitik seperti Babilonia, Persia, Ibrani, Aramaik, dan Arab. Institusi learning formal belum banyak terbentuk   kecuali di lingkungan terpelajar seperti Universitas Al Qarawiyyin di Koata Fez Maroko mrupakan Universitas tertua di dunia yang tercatat dalam sejarah didirikan pada 859 Masehi oleh seorang perempuan bernama Muhammad Al Fihri Al Quraisy. Dari lembaga pendidikan ini menghasilkan para ilmuwan sastra dan religi yang mengawali peradaban Afrika Utara hingga semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal hingga abad ke – 15.   

Sungguh pun sebenarnya masih ada banyak universitas yang berdiri jauh sebelum abad ke-9, akan tetapi jejak sejarah menuskrip sulit sekali ditemukan. Yang ada hanyalah tradisi turun temurun yang masih dipraktikkan hingga sekarang. Hal ini berarti akumulasi ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia mengerucut dibelahan bumi barat. Mereka kemudian berkembang menjadi bangsa kolonial yang menginvansi daerah jajahan baru yang telah memiliki basis pengetahuan dan kearifan local seperti India, Nusantara, Indocina, dan Timur Tengah hingga abad ke-18. 

Selanjutnya ciri pendidikan 0.0 kebanyakan masih bersifat tradisional yaitu turun-temurun yang diajarkan di lembaga keagamaan (madrasah). Kodifikasi ilmu masih bersifat kontekstual (tak tertulis), dan akses terhadap teks atau buku yang dibuat oleh ilmuwan terbatas dilingkungan  institusi keagamaan tersebut. 

Akhirnya tidak heran kecapatan berpindah informasi dari satu tempat ke tempat lain sangat lambat. Di era ini orang-orang yang memiliki informasi akan memiliki power atau kekuasaan dan digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.***



Penulis adalah: Mahasiswa Magister Kajian Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia dan 
Pegawai Jasa Raharja Cabang Riau


 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -