Jumlah SLTP dan SLTA di Pekanbaru Tidak Sebanding, Picu Anak Putus Sekolah
Kamis, 04 Agustus 2022 - 19:54:08 WIB
 

TERKAIT:
   
 

PEKANBARU, detakriau -  Tidak sebandingnya jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) menyebabkan masalah dunia pendidikan di Kota Pekanbaru. Persoalan krusial adalah semakin banyaknya anak putus sekolah. 

Kondisi ini membuat Ketua Komisi V DPRD Riau Robin Hutagalung angkat bicara. Katanya, di ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru saja tahun ini ada 12.800 anak lulusan SLTP yang tidak tertampung di sekolah negeri. Masalah lain, keterbatasan ekonomi membuat orangtua anak tidak mampu menyekolahkan di sekolah swasta.

"Di Rumbai itu, banyak yang tidak sekolah. Ada yang tidak mau keluar kamar karena malu sama tetangga dia tidak sekolah," kata Robin, Kamis (4/8/2022).

Lanjut Robin, sebenarnya DPRD Riau dan Dinas Pendidikan (Disdik) sudah mencari solusi agar angka 12.800 itu bisa tertampung di sekolah-sekolah negeri dan swasta. Namun, dengan angka sebesar itu, tidak memungkinkan untuk diakomodir secara keseluruhan.

Saat rapat dengan Disdik, Ia mengungkap, ketika Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selesai kemarin, ada kekosongan sebanyak 958. Sebanyak 725 di SMA dan 233 di SMK.

"Ketika itu disampaikan, saya pribadi waktu itu meminta supaya itu tidak diisi. Karena kalau diisi nanti akan menimbulkan problem baru," kata Robin.

Namun, dengan mempertimbangkan berbagai hal, Robin sepakat agar diisi, tapi diumumkan ke publik melalui Disdik. Namun Disdik tak sanggup. Sebab ada kemungkinan ribuan orang yang datang ke Disdik.

"Akhirnya kita rapat, kita coba berupaya mengisinya. Mengisi itu, ada dari Disdik dan ada Komisi V, tapi kita sampaikan melalui Disdik supaya dibantu. Tentu kita prioritasnya adalah orang tempatan di situ, secara ekonomi tidak mampu. Itulah yang sudah berjalan," kata dia.

Tapi, solusi itu tidak sepenuhnya bisa mengatasi persoalan. Maka ada opsi agar pembentukan sekolah baru dan saat ini sudah terlaksana meski masih menumpang gedung.

"Tidak menyelesaikan sepenuhnya. Namun, kita rapat terus dengan Disdik, bagaimana mengatasi hal seperti itu. Maka Disdik itu akan membuka sekolah baru, SMA 17, 18, dan 19. Tempatnya ada di parit indah, ada di Jalan Darma Bakti terus ada di Jalan Delima, di Binawidya," kata dia.

"Ini dibuka tiga sekolah, bangunan sementara Disdik pinjam ruangan dulu. Jadi tahun ini sudah dimulai, tapi bangunan fisik 2023. Ini solusi yang sudah dilakukan berdasarkan rapat Komisi V dan Disdik. Ini kan kita menunggu dari Pak gubernur. Tapi prinsipnya kita mendorong itu," tambah dia, dilansir cakaplah.com.

Komisi V, kata dia, juga mendorong sekolah swasta untuk menerima siswa afirmasi atau kurang mampu. Nanti dibantu melalui Dana Bosda dari Pemprov, ini yang sekarang dilakukan.

"Apakah PPDB ini misalnya bermasalah. PPDB ini menurut saya tidak bermasalah. Yang masalah itu ketersediaan sekolah yang tidak cukup. Makanya kita meminta Disdik supaya disampaikan ke gubernur, agar digesa terus. Karena ini tidak sebanding. SMP sampai 46, SMA hanya 16, sementara kita ada wajib belajar. Ini yang kita dorong ke depan. Kita tidak menyoroti PPDB itu bersalah," papar dia.(rid/ckp)



 

 
Redaksi | RSS | Pedoman Media Siber Copyright © 2017 by detakriau.com. All Rights
 
 
22:52 | WARTAWAN DETAK RIAU DIBEKALI KARTU PERS DALAM PELIPUTANNYA, JIKA MENCURIGAKAN HUB 0813-655-81599 - - - -